Cimahi – Tidak hanya menjadi leading sector penanggulangan terorisme yang bertanggungjawab mendorong sinergi dengan institusi pemerintah, aparat penegak hukum, TNI Polri maupun stakeholder terkait lainnya, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme juga terus melakukan sosialisasi dan diseminasi informasi kepada masyarakat luas. Beberapa cara di antaranya adalah melalui penyelenggaraan seminar dan kuliah umum. Sosialisasi akan nilai-nilai kebangsaan menjadi upaya mencegah dan deteksi dini bahaya radikalisme dan terorisme yang mengancam NKRI. Jiwa kebangsaan dan nasionalisme yang mengakar kuat di dalam kehidupan masyarakat akan menjadi pondasi kuat untuk menangkal infiltrasi paham radikalisme dan intoleransi.

Sekretaris Utama (Sestama) BNPT, Marsda TNI Dr. A. Adang Supriyadi, berkesempatan untuk hadir memberikan kuliah umum di Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) pada Rabu (28/08) pagi di Gedung Sasana Krida, Kampus Unjani Cimahi, Jawa Barat. Kuliah umum ini termasuk dalam rangkaian acara pengenalan kehidupan kampus bagi 3.500 mahasiswa baru Unjani di Tahun Akademik 2019-2020.

Kegiatan kali ini diawali dengan pelaksanaan upacara di pagi hari yang langsung dipimpin oleh Mayjen TNI (Purn.) Witjaksono, M.Sc., NSS., selaku Rektor Unjani sebagai Inspektur Upacara. Sementara itu, Prof. Drs. Yanyan Mochamad Yani, MAIR., Ph.D, yang juga merupakan Kelompok Ahli BNPT turut hadir sebagai tamu undangan bersama dengan para wakil rektor, senat, dekan dan para dosen pengajar.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian kuliah umum oleh Sestama BNPT yang mengawalinya dengan memberikan selayang pandang atau sinopsis terkait definisi radikalisme dan terorisme. Penyimpangan ideologi yang anti-NKRI ini harus diwaspadai dan diantisipasi dengan peran seluruh elemen masyarakat. “Saya minta jangan sampai meninggalkan pilar bangsa yaitu UUD 1945, Pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Jangan sampai diisi ideologi-ideologi tidak benar yang mau merubah ideologi kita. Siapa lagi yang bisa mempertahanakan itu kalau bukan kita yang bersatu secara positif,” lanjutnya.

Para mahasiswa baru kemudian diminta untuk berperan dalam cegah dini munculnya radikalisme dan terorisme di lingkungan sekitar mereka. “Kita harus bisa identifikasi dini, termasuk tahap pra-radikal atau intoleransi itu bahaya. Jika ada yang terpengaruh ideologinya tidak bisa ditebak. Jika ada yang tiba-tiba memisahkan diri dan membuat kelompok-kelompok kecil eksklusif, segera laporkan,” ujar Sestama BNPT.

Merespon masuknya paparan radikalisme di perguruan tinggi khususnya generasi muda, Sestama BNPT menganggap bahwa penting untuk membekali sifat-sifat seperti bela negara, gotong royong agar dapat menjadi pemimpin visioner yang mampu mempertahankan persatuan bangsa. Untuk itu, dalam membangun manusia perlu dua hal yang harus diperhatikan. Yang pertama adalah aspek kompetensi yaitu kepemilikan skill dan pengetahuan. Selanjutnya, aspek yang kedua adalah karakter. Kedua aspek ini dinilai penting untuk menciptakan generasi yang bijaksana dan kuat akar kecintaannya terhadap negara agar tidak goyah mempertahankan NKRI.

Pria yang memiliki keahlian di bidang keselamatan penerbangan ini, kemudian melanjutkan penjelasan kaitannya dengan kemajuan teknologi yang berpengaruh signifikan terhadap tatanan hidup bermasyarakat kini. Jika SDM Indonesia tidak tanggap beradaptasi, atau tidak punya daya kritis dalam menanggapi perubahan ini, dengan mudah paham radikal negatif dapat mempengaruhi karena persebarannya sudah merambah media digital yang sulit untuk di monitor.

“Apalagi di era revolusi 4.0 saat ini, diperlukan nilai-nilai lebih yang membangun seperti critical thinking, kolaborasi, komunikasi dan kreativitas. Jika semua aspek tersebut tidak dapat dimiliki oleh SDM Indonesia, dampaknya negara kita akan jauh tertinggal,” ujar Marsda TNI Dr. A. Adang Supriyadi.

Ditemui usai acara, Rektor Unjani, Mayjen TNI (Purn.) Witjaksono, M.Sc. NSS., menyampaikan bahwa paparan dari BNPT tidak hanya sebatas menceritakan bagaimana BNPT bekerja namun juga bagaimana menerapkannya di ranah perguruan tinggi, tidak semata-mata melalui pendidikan akademik namun melalui pendidikan karakter.

“Ini pertama kali-nya pembicara dari BNPT hadir di Unjani untuk menjelaskan bagaimana kita menangkal radikalisme di kampus. Tentu saja ini program yg sangat berharga bagi kami. Apa yang disampaikan Marsda TNI Dr. A. Adang Supriyadi tadi bukan hanya masalah data yang harus diolah secara ilmiah, ataupun tentang bagaimana BNPT menanggulangi terorisme tetapi kita juga diberi pencerahan untuk tetap mencintai merah putih NKRI, Pancasila, dan UUD 1945. Kita juga diajari bagaimana sebagai generasi muda harus belajar dengan rajin dan sungguh-sungguh sebagai wujud radikal yang positif,” ujar Rektor Unjani.

Kemudian saat menutup kegiatan, Marsda TNI Dr. A. Adang Supriyadi menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap respon para mahasiswa yang sangat positif. Diharapkan kedepannya Unjani kian unggul dan menjadi kampus yang bebas radikalisme negatif. “Saya memberikan pembelajaran dan pemahaman tentang apa itu radikalisme dan terorisme. Alhamdulillah ditanggapi oleh mahasiswa dengan baik. Hasil dari acara ini akan saya sampaikan ke Kepala BNPT. Saya tentunya mengharapkan kedepannya Unjani selalu maju dan bebas dari paham radikalisme yang negatif dan terorisme,” tutup Sestama BNPT.