Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme pada Selasa (22/10) sore menerima kunjungan studi banding luar negeri dari The New Zealand Advanced Command dan Staff Course (Joint) [(ACSC(J)] dan Joint Warrant Officer Advanced Course (JWOAC).

Deputi Bidang Kerja Sama Internasional BNPT, Andhika Chrisnayudhanto didampingi oleh Direktur Kerja Sama Bilateral, Brigjen Pol. Drs. Kris Erlangga A.W., menyambut kedatangan 63 orang delegasi yang terdiri dari para personil Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara Selandia Baru.

Kedatangan delegasi ini dipimpin oleh Marsekal Pertama, Darryn Webb, Assistant Chief Of Defense Capability didampingi oleh Senior NZDF Officers, Senior NZDF Warrant Officers, Senior International Military Officers, Academic Staff NZ Command, dan Staff College.

Kunjungan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan peserta mengenai isu pertahanan dan keamanan dari perspektif berbagai Negara, serta untuk mengumpulkan wawasan mengenai isu-isu terkait yang menjadi kepentingan bersama regional. Kegiatan ini juga dilandasi atas kerja sama BNPT dengan pemerintah New Zealand, yang sebelumnya telah lama dilakukan.

“Kita telah menandatangani perjanjian kerja sama Counterterrorism antara Indonesia dengan Selandia Baru pada tahun 2018 lalu, kunjungan ini merupakan suatu bentuk implementasi dari pihak Selandia Baru. Dalam hal ini teman-teman atau partisipan dari New Zealand Advance Command Course ini ingin mengetahui bagaimana penanggulangan terorisme yang telah dilaksanakan oleh BNPT, makanya mereka datang kemari dan mereka juga ingin melihat bagaimana kiprah BNPT di dalam menanggulangi terorisme,” ungkap Direktur Kerja Sama Bilateral BNPT, Brigjen Pol. Drs. Kris Erlangga A.W.

Saat kunjungan berlangsung, Deputi Bidang Kerja Sama Internasional BNPT, Andhika Chrisnayudhanto di hadapan para Delegasi menjelaskan berbagai program kegiatan dan pencapaian-pencapaian BNPT dalam menanggulangi bahaya paham radikalisme dan terorisme dari akar hingga ke hulu. Dalam kesempatan ini, Deputi Bidang Kerja Sama Internasional BNPT juga menjelaskan kepada peserta mengenai langkah penyelesaian masalah deradikalisasi terorisme yakni dengan metode Soft Approach serta Hard Approach. Andhika Chrisnayudhanto menjelaskan bahwa metode ini berhasil dilakukan di beberapa wilayah yang dinilai masih tinggi tingkat kerawanan radikalisme dan terorismenya. Soft power approach juga berhasil diimplementasikan di wilayah asal para napiter seperti halnya di Lamongan Jawa Timur, Deli Serdang Sumatera Utara, dan Bima Nusa Tenggara Barat.

Hasil kunjungan ini pun lalu mendapatkan sambutan baik oleh para delegasi, dengan banyaknya peserta yang antusias memberikan pertanyaan terkait pendekatan-pendekatan penanggulangan terorisme di penghujung kegiatan.

“Antusiasme mereka sangat luar biasa, karena tadi banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul yang disampaikan oleh mereka. Sebagian besar memang terlihat ingin mengetahui apa saja yang sudah dilakukan Indonesia dalam hal ini BNPT dan seluruh stakeholder kita dalam menanggulangi terorisme,” ujar Brigjen Pol. Drs. Kris Erlangga A.W.

Diharapkan kedepannya dengan adanya kunjungan studi banding seperti ini, langkah-langkah pendekatan BNPT dan capaiannya dapat menjadi contoh yang baik dalam upaya penanganan terorisme yang terjadi di Selandia Baru.