Lamongan – Usaha yang BNPT telah lakukan dalam membangun pondok pesantren Yayasan Lingkar Perdamaian yang didirikan oleh mantan kombatan, Ali Fauzi, memiliki daya tarik tersendiri bagi negara-negara lain. Belanda, salah satunya mengutus delegasi kerajaan Belanda yang terdiri dari Menteri Luar Negeri Kerajaan Belanda dan Duta Besar Belanda untuk Indonesia untuk meninjau secara langsung dalam sebuah kunjungan kerja pada pondok pesantren yang dimaksud.

Kunjungan kerja delegasi Belanda terdiri dari Menteri Luar Negeri Kerajaan Belanda, H.E. Stephanus Abraham Blok dan Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Rob Swartzbol serta jajarannya. Kedatangan delegasi Belanda pada Rabu (4/7) yang bertempat di halaman Yayasan Lingkar Perdamaian, disambut langsung oleh Kepala BNPT, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. Kepala BNPT juga didampingi oleh Mantan Kombatan sekaligus Ketua Yayasan Lingkar Perdamaian, Ali Fauzi, Deputi Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan, Irjen Pol Budiono Sandi beserta jajaran BNPT.

Kunjungan kerja tersebut diawali dengan pemberian kata sambutan serta pengenalan Yayasan Lingkar Perdamaian oleh Ali Fauzi. Dalam sambutannya, ia tak lupa mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas kepercayaan dan dukungan yang diberikan oleh BNPT kepada yayasannya. Ia mengenalkan, bahwa berdirinya yayasan tersebut berasal dari gagasan dirinya dan kakaknya Ali Imron yang hingga kini masih dipenjara dengan vonis hukuman seumur hidup.

“Kalau saya dulu terkenal ahli merakit bom, saya sekarang terkenal ahli menjinakkan bom. Dengan dibangunnya yayasan ini, saya ingin merubah perspektif masyarakat yang dulu mengenal daerah ini sebagai sarang teroris, bergeser menjadi sumber duta-duta perdamaian,” ujar Ali.

Menyusul memberikan kata sambutan, Menlu Belanda menyampaikan bahwa Indonesia dan Belanda telah memiliki sejarah yang sangat panjang bersama dan akan terus bekerjasama kedepannya. Di hadapan Kepala BNPT, H.E. Stephanus Abraham Blok mengatakan kerja sama antara kedua negara akan terjalin lebih baik lagi. Terlebih ancaman terorisme dan paham radikal tidak bisa dianggap enteng. Menurutnya, kunjungan dan kerja sama dengan Indonesia dalam hal ini BNPT menjadi momentum yang tepat untuk menjadi pembelajaran.

“Indonesia adalah negara muslim terbesar dan mampu bekerja sama dengan agama-agama lain di dunia. Jadi tidak ada negara yang lebih baik di dunia untuk dipelajari terkait bagaimana perbedaan opini dan agama tidak menjadi halangan untuk masyarakat bekerja sama,” ujar Blok.

Agenda kunjungan dilanjutkan dengan sesi pertukaran cindera mata dan foto bersama antara Kepala BNPT dan Menlu Belanda. Kunjungan kerja yang merupakan rangkaian dari nota kesepahaman antara Belanda dan Indonesia pada dua tahun lalu tersebut memasuki peninjauan langsung pada Pondok Pesantren Yayasan Lingkar Perdamaian. Disambut oleh para santri, mantan kombatan serta para istri dan janda mantan kombatan, Menlu Belanda mengelilingi lingkungan dengan didampingi oleh Kepala BNPT dan Ali Fauzi.

Di penghujung kunjungan, Menlu Belanda mengaku mendapat banyak pembelajaran, menemui kesamaan dengan Indonesia, serta mendapatkan kesan tersendiri dari kunjungan ini. Ia mengatakan, Indonesia memang memiliki pengalaman dengan serangan teroris, nemun berarti Indonesia jua memiliki pengalaman dalam melakukan deradikalisasi.

“Tidak pernah dalam hidup saya berjabat tangan sebanyak ini dengan mantan teroris. Hal ini yang juga diterapkan negara kami dan perlu lebih lanjut kami pelajari, yakni pendekatan lunak atau soft power, tentang bagaimana mantan terroris bias kembali hidup normal, tidak mempengaruhi orang sekitarnya dengan pemahaman radikal. Jadi ini sangat menarik bagi kami untuk melihat pencapaian Ali Fauzi dengan sekolah dan yayasannya,” tutup Blok.

Ditemui usai acara, Kepala BNPT menjelaskan tidak kali ini saja Kerajaan Belanda melakukan kunjungan. Utusan NCTV, sudah berkunjung ke boarding school yang dibangun BNPT di Sumatera Utara. Komjen Pol Drs. Suhardi Alius juga menyetujui kesamaan antara Indonesia dengan Belanda dalam hal visi.

“Intinya kita sama-sama satu visi, bahwa menyelesaikan masalah terorisme tidak bisa hanya menggunakan pendekatan keras, melainkan pendekatan lunak juga. Bagaimana kita bisa mengembalikan mantan teroris ke tengah masyarakat, terintegrasi dan tidak dimarjinalkan,” tutup Kepala BNPT.