Jakarta – Beragam metode kerap dilakukan BNPT untuk memenuhi komitmen penanggulangan radikalisme dan terorisme dari hulu ke hilir. Mengacu pada dinamika global terkini, generasi muda menjadi salah satu kelompok usia rentan terpapar radikalisme dan terorisme sehingga perlu dibekali pemahaman akan bahaya radikalisme dan terorisme dengan penyesuaian metode atau cara sosialisasi. Salah satu bentuk sosialisasi yang dilakukan antara lain dengan masuk ke perguruan tinggi yang tersebar di seluruh penjuru nusantara untuk memberikan kuliah umum maupun seminar, bahkan para pejabat tinggi dari BNPT seringkali menjadi narasumber dan memberikan materi secara langsung.

Kepala BNPT, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., pada Senin (2/08) pagi, diundang untuk mengisi kuliah umum bagi para mahasiswa baru Universitas Budi Luhur yang diselenggarakan tepatnya di Auditorium Universitas Budi Luhur, Jakarta. Dihadiri oleh 1.300 mahasiswa baru dari latar belakang fakultas dan keilmuan yang beragam, kuliah umum ini juga dihadiri langsung oleh Dr. Ir. Wendi Usino, M.Sc, M.M. selaku Plt. Rektor Universitas Budi Luhur beserta Ketua Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti dan didampingi pula oleh para Direktur, Dekan, dan Dosen pengajar di lingkungan Universitas Budi Luhur.

Mengusung tema ‘Resonansi Kebangsaan dan Bahaya Serta Pencegahan Radikalisme dan Terorisme’, Kepala BNPT mengawali paparannya dengan menceritakan bahwa kini nilai-nilai kebangsaan kian tergerus. Tercermin pada masyarakat masa kini, khususnya generasi milenial, banyak yang melupakan sejarah padahal tersebut adalah pondasi kekuatan bangsa. Kelengahan ini dapat dimanfaatkan kelompok penyebar paham radikal untuk mengubah ideologi negara melalui anak muda.

“Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa Republik ini dibangun dengan idealisme. Jika tidak ada idealisme, kita masih dijajah. Semua etnis berkontribusi besar dalam kemerdekaan. Bahkan ini menjadi perhatian dari negara lain, bagaimana menjaga persatuan di tengah keragaman agama, banyaknya suku dan bahasa kita,” ungkap Kepala BNPT.

Lebih jauh lagi, Kepala BNPT mengungkapkan bahwa munculnya beberapa permasalahan yang dihadapi bangsa kita sekarang, tidak hanya masalah ego sektoral, tapi juga masih ada masalah kebencanaan secara letak geografis dan eksploitasi sumber daya alam. Terdapat juga permasalahan tentang beban bonus demografi yang seringkali dikaitkan dengan surplus angkatan kerja karena terbatasnya kapasitas dunia kerja, yang bahkan tidak dapat dipastikan bisa menampung seluruh lulusan universitas. Hal tersebut hanya sekelumit permasalahan yang harus dihadapi generasi muda penerus bangsa dan dicari solusinya di era kompetensi global ini.

Kepala BNPT kemudian beralih menjelaskan, sementara negara dipusingkan oleh permasalahan di atas, ideologi paham radikal berkembang dengan bebas khususnya melalui internet. Kesimpangsiuran informasi yang bersliweran di internet bisa mengadu domba, merusak pertemanan bahkan pernah ditemui yang terjadi di lingkup keluarga. Distribusi informasi di dunia maya tidak ada lagi sekat. Hal ini membahayakan apabila masyarakat tidak mampu memiliki kemampuan filter informasi, sehingga dengan mudah percaya berita bohong dan ujaran kebencian. Hanya gara-gara hoaks dampaknya luar biasa, dapat menggoyahkan nilai kebangsaan.

“Masyarakat kita sudah melek teknologi, tetapi banyak yang masih tidak punya kemampuan literasi dan memfilter kemampuan untuk verifikasi. Fenomena ‘asal share’ bisa merusak kebangsaan kita. Akibat kemajuan teknologi, ada yg sesuatu yg hilang yaitu interaksi sosial. Diskusi yang terjadi di ruang publik tiada, yang dekat jadi jauh. Keakraban kita jadi renggang, sekarang banyak yang merasa unggul dan benar sendiri,” ujar Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., mengingatkan agar berhati-hati dengan globalisasi.

Di akhir acara, Plt. Rektor Universitas Budi Luhur, Dr. Ir. Wendi Usino, M.Sc., MM., menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kehadiran Kepala BNPT ke Universitas Budi Luhur. Memimpin dengan hati, yaitu gaya Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., dalam memimpin BNPT ternyata menjadi daya tarik tersendiri. Pendekatan humanis atau soft power approach yang dilakukan ternyata memiliki kesamaan nilai dengan apa yang dipedomani Universitas Budi Luhur.

“Budi Luhur adalah Universitas yang mengedepankan sekali kebangsaan. Apa yang disampaikan Kepala BNPT khususnya terkait hal memimpin dengan hati, sejalan dengan value Budi Luhur, yaitu cinta kasih, welas asih, simpati dan empati. Bangsa kita adalah bangsa yang besar, yang harus menjaga persaudaraan kita,” ujar Plt. Rektor Universitas Budi Luhur.

Komitmen tersebut ditanggapi baik oleh Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. Dijelaskan bahwa upaya BNPT memberikan pemahaman di lingkup perguruan tinggi setahun belakangan mulai memperlihatkan hasilnya.

“Bahkan banyak rektor perguruan tinggi dan pimpinan-pimpinannya yang sekarang berani mendeklarasikan kampusnya anti-radikalisme. Kepentingannya adalah menjaga bangsa ini supaya tetap eksis, yaitu NKRI,” ucap Kepala BNPT.

Kepala BNPT kemudian mengakhiri kegiatan dengan menyampaikan harapan kepada peserta acara. Diharapkan pembekalan berupa identifikasi dini dan pencegahannya sampai bagaimana mengambil langkah, dapat memicu peserta agar lebih tanggap dan aktif terhadap bahaya radikalisme dan terorisme yang kemungkinan terjadi di tengah masyarakat.

“Kita bekali cara mengidentifikasi dan bagaimana berbuat untuk menghindari paham (radikalisme negatif) tersebut, agar fokus mencapai cita-citanya. Dinamika harus direspon dengan baik, bagaimana memanfaatkan teknologi. Kita harapkan, karena fokus para mahasiswa disini kebanyakan di bidang teknologi, jadi insan-insan yang siap menghadapi tantangan (globalisasi) kedepannya,” harap Kepala BNPT.