Ciawi, Bogor – Pemahaman mendalam akan bahaya radikalisme dan terorisme kini perlu dipahami oleh masyarakat luas karena dampaknya dapat mengancam siapapun dengan berbagai latar belakang. Kejahatan serius yang sangat berlawanan dengan rasa kemanusiaan ini menjadikan radikalisme dan terorisme sebagai musuh bersama, tidak hanya dibutuhkan sinergi antarinstansi pemerintah namun BNPT sebagai koordinator utama penanggulangan terorisme di Indonesia berupaya melakukan pemahaman dan diseminasi ajakan kewaspadaan terhadap permasalahan ini kepada masyarakat luas.

Tidak hanya melakukan sosialisasi di perguruan tinggi seluruh nusantara, berbagai institusi pemerintah dan Kementerian/Lembaga, jajaran pejabat tinggi BNPT kerap diundang menjadi pembicara untuk memberikan pemahaman akan wawasan kebangsaan di perusahaan-perusahaan yang masuk dalam BUMN, hal ini dinilai penting mengingat perusahaan BUMN memiliki tanggungjawab yang besar dalam menjaga aset dan obyek vital negara.

Hal ini menjadi tujuan hadirnya Sekretaris Utama BNPT, Marsda TNI Dr. A. Adang Supriyadi pada Selasa (22/10) siang untuk menjadi pembicara pada sesi Sharing Session mengenai wawasan kebangsaan pada acara ‘Leadership Development Program’ yang ditujukan bagi segenap pimpinan dan karyawan P.T. Pupuk Indonesia.

Acara yang diselenggarakan di Auditorium IPC CorporateUniversity, Ciawi, Bogor, Jawa Barat ini dihadiri oleh segenap General Manager, Manager, dan Board of Directors P.T. Pupuk Indonesia yang mencakup beberapa perusahaan di bawahnya meliputi Pupuk Kalimantan Timur Bontang, Pupuk Sriwidjaja Palembang, Pupuk Iskandar muda Lhokseumawe Aceh, Petrokimia Gresik, Pupuk Kujang Cikampek, Rekind dan sebagainya.

Platform atau media persebaran paham radikalisme dan terorisme kini tidak lagi secara konvensional atau dengan tatap muka melainkan bergeser pola persebarannya menjadi online semudah dan secepat akses di internet. Dengan kemajuan teknologi apalagi pengguna internet di Indonesia yang luar biasa masif, sangat sulit menyaring informasi yang beredar di dunia maya. Telah banyak contoh kasus nyata pelaku terorisme yang terpapar akibat belajar dan di bai’at lewat akun media sosial internet.

Mudahnya persebaran paham radikalisme dan terorisme ini perlu ditanggapi serius oleh masyarakat. Sestama BNPT menyampaikan kepada peserta sharing session akan pentingnya menaruh perhatian yang lebih terhadap keluaraga, terbukti beberapa aksi teror yang melibatkan anggota keluarga telah terjadi contohnya dalam kejadian di Surabaya, Pekanbaru, dan Sibolga.

Perilaku radikal positif dan kemauan untuk identifikasi dini di lingkungan sekitar para karyawan menjadi poin utama yang disampaikan Sestama BNPT kepada segenap karyawan dan pimpinan P.T. Pupuk Indonesia. “Bapak/Ibu sekalian yang bekerja di P.T. Pupuk Indonesia harus radikal juga, tapi radikal yang positif tentunya, membangun perusahan ini untuk maju dan melindungi keluarga kita. Anak dan keluarga tolong terus dimonitor, jika narkoba masih bisa kita lihat ciri fisiknya, namun jika telah terpapar ideologi yang melenceng tidak bisa kita lihat. Jika menolak didekati, hati-hati karena bisa saja sudah mulai terkena indoktrinasi,“ ujar Sestama BNPT mengingatkan.

Ditemui usai acara, Agus Subekti, Senior Vice President Sumber Daya Manusia P.T. Pupuk Indonesia menekankan pentingnya menghadirkan perwakilan dari BNPT sebagai pembicara. Karena paham radikal terorisme sangat membahayakan kedepannya dan bisa menyerang ke semua lapisan masyarakat. Terlebih sebagai perusahaan yang mengelola aset negara, segenap karyawan dan pimpinan PT Pupuk Indonesia perlu menyadari dan melakukan deteksi dini jika muncul ciri-ciri radikalisme di dalam keluarga maupun di lingkungan kerja.

“Sebagai karyawan P.T. Pupuk Indonesia yang asetnya adalah objek vital nasional negara, pengetahuan tentang bahaya radikalisme dan terorisme itu harus dipahami oleh keluarga besar grup Pupuk Indonesia. Sehingga jika menemukan tanda-tanda atau ciri-ciri pada keluarga, anak buah, outsourcing atau siapapun di sekitar kita yang sekiranya terpapar, harus segera disampaikan ke pihak yang berwenang. Jadi harus kita antisipasi karena paham ini benar-benar ada dan membahayakan. Baik individu, keluarga maupun seluruh masyarakat, khususnya sebagai orangtua, kita juga harus antisipasi. Kita perhatikan anak-anak kita bagaimana pendidikannya, apa yang dipelajari dan mereka bergaul dengan siapa saja. Termasuk kita sendiri harus hati-hati karena itu bisa menyerang kita juga, intinya semua harus hati-hati,” ungkap Agus Subekti.