Bandung – Sebagai salah satu golongan masyarakat generasi muda perlu menyadari kerentanan mereka, yang menjadi sasaran empuk persebaran terorisme dan radikalisme. Perkembangan teknologi informasi dan menipisnya nilai kebangsaan, turut melemahkan generasi muda saat berhadapan dengan paparan radikalisme dan terorisme. Menyadari hal tersebut, Kepala BNPT Komisaris Jenderal Polisi Drs. Suhardi Alius, M.H., memberikan Kuliah Umum (Studium Generale) di Institut Teknologi Bandung(ITB).

Bertempat di Aula Barat ITB, Rabu(8/11) pagi, kuliah umum yang diberikan oleh Kepala BNPT mengangkat tema “Resonansi Kebangsaan dan Bahaya serta Pencegahan Radikalisme”. Kuliah umum tersebut diikuti oleh ratusan mahasiswa ITB dan perguruan tinggi lainnya yakni perguruan tinggi lain seperti Institut Pemerintahan Dalam negeri (IPDN), Universitas Langlangbuana, Universitas Sanggabuana, Universitas Komputer Indonesia (Unikom).

Kedatangan Kepala BNPT untuk menyuarakan kerentanan mahasiswa sebagai generasi muda terhadap terorisme dan radikalisme disambut baik oleh Wakil Rektor Bidang Administrasi, Umum, Alumni dan Komunikasi, Dr. Miming Miharja dan para akademisi lainnya. Dalam pembukaannya, Dr. Miming Miharja mengutarakan rasa terima kasih atas kedatangan dan usaha Kepala BNPT dalam melakukan penanggulangan terorisme.

“Kami berbahagia dapat menghadirkan Kepala BNPT yang akan memberikan materi kuliah umum yang penting untuk kita pahami bersama. Kita juga harus berbangga karena dibawah konsep kepemimpinan BNPT, Indonesia memiliki keunggulan dalam upaya penanggulangan terorisme. Karena pendekatan yang digunakan Bapak Suhardi Alius itu juga menggunakan soft approach, tidak hanya hard approach. Kita perlu cermati dan sikapi terorisme yang dapat membahayakan kesatuan Indonesia,” ujar Dr. Miming Miharja.

Membahas resonansi bangsa, mantan Kepala Divisi Humas Polri tersebut mengutarakan keprihatinannya akan perkembangan teknologi yang mengusik jati diri bangsa, khususnya pada generasi muda. Meskipun begitu, beliau menyarankan agar mahasiswa sebagai generasi muda pengguna media internet maupun media sosial, dapat lebih cerdas dan bijak terhadap perkembangan informasi.

“Terorisme model baru menggunakan media, termasuk di dalamnya media sosial. Mereka mengajak untuk menjadi radikal, merekrut menjadi teroris, melakukan bai’at, sekarang dilakukan secara online. Kita yang setiap hari berselancar di dunia maya harus menyadari dan kritis dalam menghadapi konten seperti itu,” papar mantan Sekretaris Utama Lemhannas tersebut.

Lebih lanjut, Drs. Suhardi Alius, M.H. menjelaskan bahwa teroris berasal dari kalangan terdidik dan ada potensi radikalisme eksis di kalangan dan lingkungan mahasiswa. Beliau mengajak agar para mahasiswa mengenali teman dengan baik agar dapat mencegah radikalisme pada lingkaran pertemanan sendiri. Dalam kuliah umum yang dimoderatori oleh Dr. Umar Khayam, Kepala BNPT juga mengingatkan bahwa radikalisme dan terorisme adalah gangguan pada kesatuan bangsa.

Dengan mengundang Kepala BNPT, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. pada Studium Generale KU4078 tersebut ditujukan untuk menghasilkan mahasiswa yang berwawasan luas, memiliki jiwa kepemimpinan dan kebangsaan yang tinggi. Sosok Kepala BNPT terpilih sebagai pemateri kuliah umum mengingat beliau sebagai tokoh dari lingkungan pemerintah yang dapat memberikan inspirasi, pengalaman, pemikiran serta wawasan yang berguna bagi para mahasiswa.