Surabaya – Aksi terorisme dan infiltrasi paham radikalisme tidak memandang latar belakang sasarannya. Hal tersebut dapat terlihat dari beragamnya latar belakang pelaku dan motif, serta lokasi sasaran aksi terorisme. Tidak menutup kemungkinan sekolah menjadi objek penyerangan kelompok radikal, maka dari itu perlu adanya SOP dan sistem pengamanan yang memumpuni.

Demi mencegah aksi terorisme dan penyebaran paham radikalisme di lingkungan sekolah, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyelenggarakan Monitoring dan Evaluasi Standar Operasional Prosedur (SOP) Penanganan Aksi Teror Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) pada hari Rabu (9/10) dan Kamis (10/10). SPK sendiri merupakan sekolah yang bekerjasama dengan lembaga pendidikan asing terakreditasi.

Bertempat di SPK SMA Al-Azhar dan SPK Intan Permata Hati School Surabaya, kegiatan ini ditujukan untuk memantau pelaksanaan SOP yang telah dibuat oleh BNPT pada tahun 2016, serta mengevaluasi isi dari SOP. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan wujud kepedulian dan sinergi antara BNPT dan Asosiasi Satuan Pendidikan Kerja Sama Jawa Timur (ASKAJATI) dalam rangka meningkatkan keamanan dan kenyamanan dalam proses belajar mengajar.

Turut hadir narasumber berpengalaman dan terlibat dalam pembuatan SOP Penanganan Aksi Teror SPK yakni Direktur Perlindungan BNPT, Brigjen Pol Drs. H. Herwan Chaidir,
Kepala Subdirektorat Pengamanan Lingkungan BNPT, Kolonel Czi Rahmad Suhendro, Akademisi Departemen Kriminologi Universitas Indonesia, Dr. Kemal Dermawan, Pengurus Persatuan Sekolah SPK Internasional, Etika Hia, M.Psi.

BNPT melalui Direktur Perlindungan pun berkesempatan untuk berbagi wawasan kebangsaan kepada Kepala Sekolah, tenaga pengajar, satuan pengamanan di sekolah SPK wilayah Jawa Timur, serta ratusan pelajar setingkat SMP dan SMA Intan Permata Hati School.

Herwan Chaidir menegaskan bahwa paham radikal yang berujung pada aksi terorisme terjadi karena lunturnya jiwa nasionalisme. Fenomena tersebut semakin nyata di kala teknologi hadir di tengah masyarakat. Direktur Perlindungan BNPT kemudian mengajak seluruh pelajar untuk memegang teguh rasa nasionalisme dan menjadi pionir toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi monev SOP yang dimoderatori oleh salah satu perwakilan dari ASKAJATI. Dalam sesi ini, Kemal Dermawan mengawali paparannya dengan menjelaskan pengertian dari radikal terorisme.

Hal yang perlu digaris bawahi adalah terorisme merupakan kejahatan serius atau ‘serious crime’ sehingga dalam penanganannya diperlukan metode khusus. Oleh karena itu, SOP, baik SOP yang dibuat oleh BNPT dan SOP internal SPK yang telah diimplementasikan harus disesuaikan mengikuti pola-pola terorisme yang berkembang saat ini.

“Sudah 3 tiga tahun (SOP Pengamanan Aksi Teror SPK berjalan) artinya bisa saja terjadi suatu perubahan dinamika terorisme baik pelaku dan metodenya, sebab itu dalam kesempatan ini kita juga melakukan monitoring. Mungkin ada hal-hal yang tidak termuat di dalam SOP yang lama itu akan kita perbaiki di SOP yang baru. Beberapa hal yang menjadi kekurangan dari yang lalu itu adalah refleksi dari perubahan-perubahan (pola terorisme) tadi dan juga bertambahnya jumlah SPK 3 tahun ini,” tutur Kemal Darmawan.

Lebih lanjut, Kasubdit Pengamanan Lingkungan BNPT, Kolonel Czi Rahmad Suhendro menyebutkan beberapa komponen penting dalam sistem pengamanan lingkungan yakni personil satuan pengamanan, alat kelengkapan seperti CCTV, jaringan komunikasi, serta peran masyarakat. Rahmad Suhendro kemudian menerangkan bahwa diantara ke empat hal tersebut, peran masyarakat begitu berarti dalam rangka pencegahan dan deteksi dini ancaman aksi terorisme di lingkungan sekolah.

“Masyarakat sekitar sekolah bisa menjadi mata dan telinga, maka dari itu perlu pihak manajemen sekolah untuk membina huhungan baik dengan masyarakat sekitar untuk bertukar informasi, untuk menjaga lingkungan sekolah ini tetap aman. Jaringan teroris tidak mudah terdeteksi, oleh karena itu perlu adanya peran dari berbagai pihak,” ujar Rahmad Suhendro.

Selain itu, Kasubdit Pengamanan Lingkungan BNPT itu juga menghimbau pihak sekolah untuk terus peka terhadap tanda-tanda seseorang terpapar paham radikal terorisme.

Usai acara, BNPT melakukan inspeksi dan memberi masukan kepada pihak sekolah untuk meningkatkan sistem pengamanan sekolah baik dari aspek personel dan alat kelengkapan.

Monev SOP Aksi Terorisme SPK oleh Subdit Pengamanan Lingkungan BNPT telah dilakukan di beberapa wilayah yakni Medan, Bandung, dan Manado.