Jakarta – Mendekati masa-masa pemilihan umum peningkatan keamanan diperlukan untuk mengantipasi kemungkinan resiko keamanan yang dapat terjadi. Aksi teror sebagai salah satu resiko yang dapat terjadi menjelang pemilu menjadi perhatian BNPT untuk diminimalisir dan dapat ditanggulangi apabila terjadi. Dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Kemampuan, Deputi Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan menggelar Latihan Mitigasi Aksi Terorisme Integratif (Kementerian/Lembaga/Dinas/Instansi, POLRI, dan TNI).

Bertempat di Stasiun Gambir, Simulasi Latihan Mitigasi digelar pada Rabu pagi (06/3). Dalam kegiatan ini hadir Kepala BNPT, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., Sekretaris Utama, Marsda TNI Dr. A. Adang Supriyadi, Deputi Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan, Irjen Pol. Drs. Budiono Sandi, Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi Mayjen TNI Henri Paruhuman Lubis beserta jajaran pejabat lainnya.

Kegiatan Pelatihan Mitigasi aksi terorisme Integratif sudah berlangsung selama 3 hari sejak Senin (4/3) dengan rangkaian kegiatan persiapan dengan metode Practical Exercise dan Full Mission Profile. Pada penutupan acara di hari ketiga, kegiatan ditutup dengan upacara penutupan yang dipimpin oleh Kepala BNPT selaku Inspektur Upacara.

Dalam sambutan upacara penutupan Kepala BNPT mengingatkan bahwa penanggulangan terorisme merupakan tanggung jawab segenap komponen bangsa. Tanpa melupakan BNPT sebagai leading sector dan koordinator penanggulangan terorisme, Kepala BNPT mengajak seluruh pemegang kepentingan untuk mewaspadai penyelenggaraan pemilu 2019.

“Keamanan menjadi salah satu elemen penting dalam rangkaian penyelenggaraan pemilu 2019. Seluruh pemegang kepentingan harus siap dan memberikan perhatian khusus terhadap potensi ancaman terorisme yang mungkin terjadi. Baik di pengamanan lokasi-lokasi obyek vital, tempat pemungutan suara, jaringan komunikasi, transportasi dan logistik,” ujar Kepala BNPT.

Sebelumnya, latihan mitigasi aksi terorisme pernah digelar di beberapa obyek vital dengan konsentrasi publik tinggi seperti pelatihan di Bandara Ahmad Yani Semarang dan Bandara Soekarno Hatta. Pelatihan-pelatihan seperti ini dikatakan oleh Kepala BNPT sebagai saah satu bentuk pendekatan keras penanggulangan terorisme.

“Latihan saat ini merupakan bentuk penanggulangan dari pendekatan keras sebagai penguatan bagi TNI, Polri dan Instansi terkait dalam rangka penanggulangan terorisme. Penyamaan persepsi, cara bertindak serta standar operasional prosedur menjadi sebuah sistem, sehingga terwujud penanggulangan terorisme dapat dilakukan lebih efektif dan integratif,” ujar Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H.

Usai upacara penutupan, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi mitigasi aksi terorisme di Stasiun Gambir. Dalam pelaksanaannya, simulasi melibatkan berbagai instansi terkait seperti TNI, POLRI, Pemadam Kebakaran, Densus 88, Satgas BNPT, Marinir, Brimob, Kostrad, Paskhas, Gegana, Denjaka, Den Bravo hingga Paspampres.

Ditemui usai acara, Direktur Pengelola Prasarana PT. KAI, M. Nurul Fadhilah mengapresiasi kegiatan yang digelar oleh BNPT. Disadari oleh oleh pihak PT. KAI selaku salah satu pengelola objek vital, antisipasi resiko keamanan seperti aksi terorisme dan menjelang pemilu menjadi perhatian khusus.

“Acara seperti ini penting dilakukan di area publik. Stasiun Gambir misalnya sebagai objek vital yang diatur peraturan pemerintah memiliki konsentrasi publik yang tinggi, 1 juta penumpang yang kita angkut. Dan ini merupakan kegiatan yang positif ke depannya dalam hal antisipasi,” ujar M. Nurul Fadhilah.

Seperti yang diketahui Pemilu yang digelar 17 April 2019 mendatang akan memilih presiden dan wakil presiden, anggota DPR-RI, anggota DPRD Provinsi, anggota DPRD Kabupaten/Kota, anggota DPD. Sebagai salah satu event nasional, kemungkinan terjadinya gangguan dari berbagai resiko seperti aksi terorisme yang dapat terjadi selama proses pemilu akan terus diwaspadai.