Bali – Tindak Pidana Terorisme tidak hanya mengancam keamanan nasional namun juga menimbulkan duka kemanusiaan bagi korban (penyintas) dan keluarganya yang terkena dampak. Persoalan yang kemudian dihadapi para penyintas tidak sederhana. Selain dampak fisik dan kerugian materil, hal ini juga berakibat pada ketidakseimbangan kondisi psikologis pada korban.

Subdirektorat Pemulihan Korban Aksi Terorisme Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) membuat program yang berkelanjutan dalam rangka memberikan upaya pemulihan terhadap korban Tindak Pidana Terorisme, baik korban langsung maupun korban tidak langsung. Salah satu implementasinya adalah dengan menyelenggarakan Forum Silaturahmi Penyintas (FORSITAS) Tahun 2019 di Bali (21/3). Kegiatan ini dihadiri oleh mitra BNPT dan elemen penyintas dari Jabodebatek, Bali, Surabaya, dan Poso.

Forum silaturahmi ini dibuat bukan untuk membangkitkan trauma bagi penyintas melainkan menjadi momentum bagi para penyintas untuk bangkit bersama, saling menguatkan dan mendukung satu sama lain. Pada prinsipnya forum ini merupakan sebuah sarana pemberian dukungan psikososial melalui pendekatan berbasis masyarakat, penguatan individu, keterlibatan aktif dan peningkatan partisipasi dari penyintas untuk menjadi pendamping psikologis bagi sesama penyintas.

Sekretaris Utama BNPT, Marsda TNI DR. A. Adang Supriyadi berkesempatan memberikan pengarahan bagi para peserta forum. Melihat dampak psikologis yang timbul akibat Tindak Pidana Terorisme, Sestama BNPT beranggapan bahwa tidak hanya bantuan secara fisik atau medis saja yang diperlukan, namun juga diperlukan adanya dukungan rehabilitasi psikologis dan psikososial pasca bencana sosial tersebut terjadi.

Forum ini menjadi sebuah sarana bagi BNPT untuk menggali kebutuhan-kebutuhan penyintas agar hasilnya dapat disinergikan kepada Kementerian/Lembaga dan stakeholder lain terkait program pemulihan korban aksi terorisme yang lebih efektif dan tepat sasaran. Salah satu implementasinya dengan membuka ruang diskusi antara penyintas dan Kementerian/Lembaga mengenai hak-hak penyintas untuk mendapatkan layanan medis, rehabilitasi psikologis dan psikososial, kompensasi dan santuanan bagi korban meninggal dunia. Bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), BNPT akan bersinergi menjadi tempat bernaung rekan-rekan penyintas sebagai perwujudan kehadiran negara dalam upaya melindungi penyintas aksi terorisme.

Dr. A. Adang Supriyadi berharap agar kegiatan ini dapat menjadi sarana pengembangan diri para peserta serta yang lebih kuat, tangguh dan penuh harapan dalam menjalani kehidupan kedepannya dan senatiasa menyebarkan pesan-pesan perdamaian di tengah masyarakat agar kehidupan yang damai, aman dan toleran. Dengan peningkatan sinergi dengan kerja sama antar stakeholder yang semakin kuat, hasil akhir yang diharapkan adalah membuat penyintas kembali menjadi mandiri, berfungsi optimal dan memiliki ketangguhan menghadapai masalah sehingga dapat produktif dan berdaya guna kembali setelah peristiwa teror terjadi.