Tokyo – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus menggalang kekuatan internasional dalam rangka memperkuat sinergi dalam penanganan masalah terorisme. Pasalnya, terorisme telah menjadi ancaman global di seluruh dunia sehingga perlu kolaborasi berbagai negara dalam melakukan program penanggulangan terorisme.

Setelah bersinergi dengan negara Eropa, Amerika, Afrika, dan Timur Tengah, BNPT makin memperkuat kerjasama dengan salah satu negara penting Asia, Jepang. Kerjasama BNPT dengan Kementerian Luar Negeri Jepang atau Minstry of Foreign Affairs (MOFA) tercetus pada pertemuan kedua belah pihak di Kantor Kemenlu Jepang, Tokyo, Senin (24/7/2017).

Pada pertemuan itu, delegasi BNPT dipimpin oleh Deputi Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan Irjen Pol. Arief Dharmawan didampingi Karoum BNPT, Brigjen TNI Dadang Hendrayudha, Direktur Penindakan BNPT Brigjen Pol. Torik Triyono, Kasubdit Intelijen Direktur Penindakan Kombes Pol. Alexander Sabar, Direktur Konvensi dan Perangkat Hukum Internasional (KKPHI) Brigjen TNI Lutfi Yuniar, Kasubdit KKPHI Maulana Syahid, SE, MPP. Delegasi Kemenlu Jepang dipimpin Ambassador in Charge of Internasional Corporate for Countering Terrorism and Internasional Organized Crime, Yuji Kumamaru.

“Jepang mengalokasikan dana sebesar 45 miliar yen untuk pencegahan terorisme khususnya di kawasan Asia salah satunya Indonesia, dalam program kerjasama bantuan pelatihan dan peralatan,” ujar Deputi Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan Irjen Pol. Arief Dharmawan.

Setelah dilakukan pertemuan dengan pemerintah Jepang, BNPT dalam waktu dekat ini akan menyusun rencana program khusus dalam penanggulangan terorisme. Dari pertemuan dengan Kemenlu Jepang ini, rombongan pejabat BNPT akan melakukan pertemuan dengan National Police Agency (NPA), Public Security Intelligence Agency, dilanjutkan pertemuan Counter Terrorism Unit Jepang, malam harinya.

Sebelumnya, delegasi BNPT, Minggu (23/7/2017), melakukan sosialisasi penanggulangan terorisme di Kedutaan Besar Republik RI (KBRI) Tokyo. Kegiatan itu bertujuan agar WNI yang berada di Jepang bisa mengantisipasi perkembangan ideologi radikal yang kini menjadi ‘virus’ berbahaya, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

“Kegiatan kemarin satu bentuk perlindungan terhadap WNI yang ada di Jepang dengan memberikan informasi tentang BNPT dan memberikan info tentang perkembangan terorisme di Indonesia termasuk secara global. Tujuannya agar masyarakat Indonesia dapat mengantisipasi tentang ideologi yang berkembang ditengah-tengah mereka,” imbuh Lutfi Yuniar, Direktur (KKPHI).

Kerjasama Indonesia dan Jepang dalam penanganan terorisme ini sebenarnya sudah terjalin sejak lama. Bahkan sejak tahun 2014, Jepang telah mengundang 148 guru dari pesantren di Indonesia bertukar ilmu di Negeri Sakura, mengingat banyak kesamaan kultur budaya Jepang dengan Islam.