Jakarta – Demi mewujudkan Indonesia damai, aman, dan tentram, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk pertama kalinya menggelar program luar biasa dengan mempertemukan mantan narapidana teroris (napiter) dan korban terorisme (penyintas). Program ini dibentuk sebagai sebuah kegiatan Silaturahmi Kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (SATUKAN NKRI) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat yang dilaksanakan pada tanggal 26-28 Februari 2018.

Kepala BNPT, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., memberikan sambutan dihadapan para menteri, mantan napiter, dan penyintas dengan mengatakan kegiatan ini sudah berlangsung 3 hari diharapkan mampu menghasilkan sinergi yang baik untuk kepentingan bersama.

“Kegiatan ini merupakan silaturahmi, saling memahami satu sama lain untuk tebarkan perdamaian. Mengingat momen ini agar mantan pelaku teror dan penyintas dapat menyampaikan aspirasi kepada pemerintah dan DPR untuk menyempurnakan RUU Terorisme, ” kata Kepala BNPT dalam sambutan di kegiatan terakhir SATUKAN NKRI pada Rabu (28/2/2018).

Suhardi Alius menegaskan para penyintas ini merupakan tanggung jawab negara. Jadi jika terjadi aksi terorisme, negara harus berperan aktif menangani korban.

“Korban teror merupakan tanggung jawab negara, BNPT tengah mengupayakan penyempurnaan pasal-pasal RUU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sehingga upaya pencegahan, perlindungan, dan deradikalisasi dapat berjalan optimal,” ujar Suhardi Alius.

Diakhir sambutannya, mantan Kadiv Humas Polri berharap kegiatan ini dapat mengimplementasikan pemerintah untuk memulihkan antara masyarakat, penyintas, dan pelaku yang kurang harmonis.

“Silaturahmi ini diharapkan mampu memberikan empati bagi semua pihak, dan menjadi sarana perekat antara agama dan kultur di Indonesia,” tutup Suhardi dalam sambutannya.

Kegiatan ini dilanjutkan ‘Dialog Kebangsaan’ yang menghadirkan beberapa menteri antara lain Menteri Kordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Wiranto, Menteri Sosial, Idrus Marham, Menteri Riset dan Dikti, Prof. Muhammad Nasir, Menteri Tenaga Kerja, Hanif Dhakiri, Ketua Pansus RUU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Muhammad Syafii, dan Ketua Pemimpin Redaksi, Suryopratomo, serta perwakilan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Kesehatan.

Para narasumber masing-masing memberikan paparannya kemudian dilanjutkan sesi tanya jawab antara mantan napiter dan penyintas kepada para narasumber yang memberikan paparannya.

Menanggapi pertanyaan dan harapan para napiter dan penyintas, para menteri yang hadir langsung memberikan tanggapan dan akan memfasilitasi para mantan napiter dan penyintas yang hadir untuk diberikan fasilitas dari segi sosial, kesehatan, pendidikan dan tenaga kerja.

Menkopolhukam, Wiranto memberikan paparan di akhir acara dengan menegaskan kegiatan Silaturahmi menjadi contoh untuk menyatukan NKRI dan menghasilkan kedekatan antara pemerintah dan masyarakat melalui dialog positif.

“Kegiatan ini menjadi contoh bahwa kita selalu sadar memaafkan negeri ini akan selalu silaturahmi untuk menyatukan NKRI, dan juga mendengarkan aparat pemerintah dialog positif yang menghasilkan kedekatan dengan masyarakat,” ucapnya.

Menurutnya kegiatan ini memberikan komitmen khusus bagi para menteri untuk tidak pilih kasih dan memberikan keseimbangan bagi mereka mantan napiter dan penyintas untuk mendapatkan hak dari kesehatan, sosial, pendidikan, dan lapangan pekerjaan.