Semarang – Program kuliah umum bagi mahasiswa dan civitas akademika lingkungan perguruan tinggi kini merupakan salah satu misi serius yang BNPT terus jalankan. Jumlah mahasiswa yang terus bertambah setiap tahunnya menuntut sosialisasi dan pembekalan terkait ancaman radikalisme dan terorisme guna meningkatkan kemawasan diri. Hal ini kembali ditunjukkan oleh Kepala BNPT dalam pemberian Kuliah Umum dan Penandatanganan 6 Nota Kesepahaman (MoU) di Universitas Negeri Semarang.

Bertempat di Auditorium Prof. Wuryanto Unnes, penandatanganan MoU dan kuliah umum di laksanakan pada Selasa (18/9). Kepala BNPT Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius MH., hadir untuk memberikan pembekalan pada 7000 mahasiswa baru Unnes juga sekaligus menandatangani Nota Kesepahaman. Nota Kesepahaman tersebut dilakukan dengan 6 Perguruan Tinggi baik bersifat Negeri dan Swasta di Semarang. Adapun daftar Perguruan Tinggi tersebut meliputi:

1. MoU antara BNPT dan Univ. Negeri Semarang (UNNES);
2. MoU antara BNPT dan Univ. Diponegoro (UNDIP);
3. MoU antara BNPT dan Univ. 17 Agustus Semarang (UNTAG);
4. MoU antara BNPT dan Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang (POLTEKKES Semarang);
5. MoU antara BNPT dan Politeknik Maritim Negeri Indonesia Semarang;
6. MoU antara BNPT dan Politeknik Negeri Semarang.

Terkait isi dari nota kesepahaman tersebut meliputi kerja sama dalam rangka penanggulangan terorisme di lingkungan perguruan tinggi dengan di bidang Pendidikan, Pelatihan, Pengkajian, Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Pengembangan Kelembagaan. Rektor Unnes Prof. Dr. Fathur Rokhman, KM.Hum, Rektor Undip Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H., M.Hum., Direktur Polimarin Sri Tutie Rahayu, Direktur Poltekkes Warijan, SPd, A.Kep, Mkes., dan Direktur Polines Ir. Supriyadi, MT., adalah pimpinan-pimpinan perguruan tinggi terkait yang hadir untuk menandatangani.

Setelah penandatanganan nota kesepahaman, acara dilanjutkan dengan sambutan. Kata sambutan pertama disampaikan oleh Rektor Unnes dan dilanjutkan Wakapolda Jawa Tengah. Rektor Universitas Negeri Semarang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kesediaan Kepala BNPT dalam memberikan kuliah umum dan penandatanganan nota kesepahaman.

“Kami bangga dihadiri Kepala BNPT yang terus menginspirasi kita untuk senantiasa merekatkan diri kepada NKRI, Bela Negara dalam menyebarkan salam anti radikalisme dan anti terorisme. Rektor dan pimpinan perguruan tinggi perlu menerima binaan dari BNPT agar dapat menjalankan tugas Tri Dharmanya,” ujar Prof. Dr. Fathur Rokhman, KM.Hum.

Sementara itu Wakapolda Jawa Tengah yang mewakili Kapolda Jawa Tengah juga menyampaikan dukungannya terhadap pencegahan radikalisasi dan pencegahan terorisme. Menurutnya Kesatuan dan persatuan bangsa yang tengah dilanda ancaman degradasi kebangsaan memerlukan upaya dari seluruh pihak termasuk Kepolisian Daerah.

“Ancaman seperti ini apabila tidak dilakukan pencegahan dan penanggulangannya akan mengarah pada radikalisme dan terorisme yang merusak ketertiban hukum. Kami sebagai pihak penjaga keamanan dan ketertiban siap mengerahkan daya dan upaya membantu BNPT,” ujar Brigjen Pol. Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St. M.K.

Acara kemudian memasuki kuliah umum oleh Kepala BNPT. Kuliah umum kali ini mengangkat tema “Pengembangan Karakter Bela Negara Mahasiswa Melalui Penangkalan Paham Radikalisme di Kampus”. Di awal pembekalan, Kepala BNPT mengingatkan akan sejarah pembangunan dan pentingnya ideologi sebagai upaya memperkokoh persatuan dan kesatuan negara.

“Negara kita ini dibangun dengan ideologi, dan para pahlawan sulit sekali memperjuangkan kemerdekaan kita. Sekarang tugas kita untuk mempertahankannya, tugas kita semua sebagai penerus bangsa lho,” ujar Kepala BNPT.

Memegang teguh nasionalisme, tidak melupakan sejarah serta memupuk nilai dan kearifan lokal dalam diri menurut Kepala BNPT dapat membekali generasi muda dalam menghadapi globalisasi dan kemajuan teknologi. Hal ini penting dipahami ketika globalisasi dan kemajuan teknologi tidak hanya meningkatkan daya saing profesi, melainkan ada hal-hal negatif di antaranya penyebaran paham-paham menyimpang seperti radikalisme dan terorisme dalam dunia maya.

“Kita bisa betah sekali menghabiskan waktu di depan gadget dan menggunakan internet. Awas, kelompok radikal dan teroris menggunakan internet sebagai medianya. Kalau pegangan kalian terhadap kearifan lokal, sejarah dan nasionalisme kuat, kalian memiliki daya tahan,” ujar mantan Sestamma Lemhannas.

Lebih lanjut, Kepala BNPT juga menjelaskan ciri dan identifikasi radikalisme yang dapat dirasakan di sekeliling lingkungan sosial, utamanya di tengah lingkungan akademik.

“Radikalisme negatif itu meliputi intoleransi, anti NKRI, anti Pancasila dan pemahaman nilai-nilai takfiri. Kalau ada pegawai, pengajar yang mengancam kalian dengan ideologi menyimpang tertentu, ada teman yang perilakunya berubah drastis, jangan permisif, salah ya ditegur, sebelum jadi kultur,” ujar Komjen Pol Suhardi Alius.

Selain 6 Perguruan Tinggi yang menandatangani nota kesepahaman, turut hadir pula perwakilan yang terdiri dari pimpinan perguruan tinggi dan beberapa mahasiswa. Adapun perguruan tinggi yang dimaksud terdiri dari IAIN Surakarta, Politeknik Cilacap, ISI Surakarta, Unsoed, dan Poltekkes Surakarta.