Lamongan – Setelah Mengunjungi Pondok Pesantren Al-Hidayah Sei Mencirim, Deli Serdang, Sumatera Utara Rabu lalu, jajaran Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) kali ini mengunjungi Jawa Timur sebagai wujud rasa kebersamaan mendukung kelangsungan program deradikalisasi di wilayah ini.

Kunjungan kali ini dipimpin langsung oleh Kepala BNPT, Komjen. Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., dan turut dihadiri oleh pejabat BNPT terkait yaitu Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi, Mayjen TNI Hendri Parumuham Lubis, Deputi Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan, Irjen. Pol. Drs. Budiono Sandi, M.Hum., Direktur Deradikalisasi, Prof. Dr. Irfan Idris, M.A., Direktur Penegakan Hukum, Brigjen Pol. Eddy Hartono, S.Ik, M.H., serta Direktur Pembinaan Kemampuan, Brigjen Pol. Drs. Imam Margono.

Yayasan Lingkar Perdamaian di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan, menjadi tujuan awal kunjungan jajaran BNPT di Jawa Timur pada Jum’at (3/5) pagi. Silaturahmi Kepala BNPT dan jajarannya dengan Ali Fauzi, seorang mantan teroris yang merupakan pendiri Yayasan Lingkar Perdamaian ini diliputi perbincangan yang hangat bak keluarga. Ali Fauzi menyampaikan bahwa silaturahmi Kepala BNPT beserta jajarannya ini baginya jauh lebih berharga, karena sesungguhnya ikatan hati tidak akan pernah berdusta.

“Akar terorisme tidak tunggal, bahkan saling berkaitan oleh karenanya penanganannya harus dari banyak aspek, perspektif dan metodologi. Kehadiran BNPT sangat tepat, banyak kawan-kawan yang tadinya membenci polisi dan TNI tapi lewat silaturahmi yang berkelanjutan, hal itu kemudian terkikis. Keakraban mantan napi teroris, kombatan dengan aparat negara menurut saya cukup membahagiakan. Terimakasih Pak Suhardi, dengan ketulusan hati beliau kami sangat terbantu,” ujar Ali Fauzi.

Munculnya stigma dan diskriminasi yang berkembang di masyarakat secara terus-menerus terhadap para mantan teroris ini sehingga seringkali membuat deradikalisasi tidak berjalan optimal dan mendorong mereka untuk kembali melakukan aksi kekerasan yang sama. Hal ini melandasi berdirinya Yayasan Lingkar Perdamaian sebagai wadah untuk membantu mantan napi teroris dan keluarganya agar dapat kembali ke pangkuan NKRI dan menyiapkan mereka agar dapat diterima dengan baik di tengah masyarakat.

Dukungan BNPT terhadap program deradikalisasi yang telah dijalankan yayasan ini ternyata cukup menjanjikan. Ali Fauzi berujar bahwa banyak sekali mantan narapidana terorisme yang meminta pengarahan dari Yayasan Lingkar Perdamaian usai menjalani hukuman di lembaga permasyarakatan. Kepala BNPT pun memberikan apresiasi terhadap pencapaian Yayasan Lingkar Perdamaian terhadap proses deradikalisasi yang telah dilaksanakan.

“Luar biasa yang telah dilakukan Yayasan Lingkar Perdamaian ini menyebarkan perdamaian dan Islam yang moderat. Bahkan banyak sekali mantan napiter yang ke rumah singgah ini, bahkan diberikan akses ekonomi. Mudah-mudahan ini menjadi embrio yang bagus, terlebih terhadap putra-putri mantan teroris yang sekarang sudah mulai memiliki mata pencaharian sendiri. Mereka sekarang cinta NKRI dan menjadi ambasssador kita dalam rangka pengentasan masalah ekstremisme berbasis kekerasan,” ujar Kepala BNPT memberikan apresiasi.

Desa Tenggulun yang berjarak kurang lebih 70 kilometer di sebelah barat Surabaya ini sekarang telah menjadi pusat deradikalisasi bahkan telah menjadi pusat riset yang mendunia. Beberapa perwakilan negara sahabat bahkan mengunjungi Desa Tenggulun sebagai media pembelajaran tentang kontra-radikalisme dan terorisme.

Kepala BNPT menambahkan bahwa pencapaian di Tenggulun tidak lepas dari dukungan seluruh elemen masyarakat mulai dari pemerintah hingga Lembaga Swadaya Masyarakat. “Di depan PBB dan di luar negeri selalu kami jelaskan tentang program di Sei Mencirim dan Tenggulun. Sehingga jangan heran ketika banyak pejabat dari negara asing maupun media untuk melihat bagaimana kita merubah mindset dari teroris menjadi orang yang baik. Mereka diberikan kesempatan melalui kontribusi dan integrasi bukan hanya oleh pemerintah namun juga masyarakat serta Lembaga Swadaya Masyarakat bekerja sama untuk membina itu semua” tutur Kepala BNPT.

Setelah kunjungan ke Desa Tenggulun berakhir Kepala BNPT beserta Rombongan kemudian bergerak menuju Lembaga Permasyarakatan (LP) Kelas 1 Porong, Sidoarjo, untuk bersilaturahmi dengan Umar Patek, narapidana kasus terorisme yang mendekam di lapas tersebut.

“Saya merasakan bahwa saya tidak sendirian, di tengah banyaknya masyarakat yang mengucilkan saya, disini saya memiliki banyak teman dan sahabat yang memperhatikan sehingga saya merasa tidak sendirian,” ujar Umar Patek mengenai kehadiran Kepala BNPT dan jajarannya kali ini.

Plh. Kalapas Kelas 1 Porong, Drs. Sumardi, M.H., selanjutnya memberikan pendapat mengenai metode pendekatan yang lunak secara efektif dan efisien menjadi poin penting keberhasilan pembinaan Umar Patek yang telah menjadi inspirasi narapidana terorisme lainnya untuk kembali ke jalan yang benar, serta menjadi tolak ukur kualitas petugas maupun pembina lapas dalam menangani kasus serupa. “Terkait dengan pembinaan saudara kita Umar Patek dan warga binaan lainnya, tujuannya agar mereka tidak mengulangi perbuatan lagi dan kemudian diterima di masyarakat dan berguna bagi bangsa dan negara. Contohnya Umar Patek, setelah melalui proses pembinaan, deradikalisasi, telah kembali ke NKRI, ditunjukkan dengan aktif mengikuti upacara hari bsar nasional bahkan mengibarkan Sang Saka Merah Putih,” ujar Drs. Sumardi, M.H.

BNPT melihat bahwa mereduksi radikalisme tidak harus selalu menggunakan pendekatan represif. Penegakan hukum harus diimbangi dengan tindakan preventif menggunakan pola pendekatan kemanusiaan agar tidak menciptakan rasa dendam maupun melahirkan bentuk kekerasan yang baru. Melalui kegiatan-kegiatan BNPT seperti silaturahmi seperti ini, menjadi wujud kehadiran negara mengurai dan mencari jalan keluar dari permasalahan radikalisme dan terorisme dari hulu ke hilir.

“Ini membuktikan bahwa negara hadir dalam program deradikalisasi. Teman-teman yang sudah keluar maupun masih di dalam lapas kita rangkul dengan baik jangan sampai termarjinalkan. Kita berikan akses, kita perhatikan keluarganya dan ekonominya sehingga situasi kondusif dapat berdampingan hidup dengan baik,” ujar Kepala BNPT menutup kegiatan kali ini.