Jakarta – Setelah memberikan pembekalan mengenai bahaya radikalisme dan terorisme kepada Direktur Utama dan CEO serta Direktur Human Capital di lingkungan perusahaan BUMN beberapa bulan yang lalu, kali ini Kepala BNPT, Komjen. Pol. Suhardi Alius, M.H., kembali diundang untuk memberikan paparan serupa di salah satu perusahaan BUMN yang bergerak di bidang agroindustri, farmasi, dan perdagangan yaitu Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Hal ini menjadi salah satu upaya mewujudkan BUMN yang bebas dari radikalisme sepenuhnya.

Acara yang diselenggarakan di Ruang Auditorium Gedung RNI, Jakarta Selatan, pada hari Rabu (31/07) siang ini dihadiri oleh Direktur Utama RNI yaitu B. Didik Prasetyo, didampingi oleh Direktur Pengendalian Usaha RNI, Agung P. Murdanoto serta dihadiri pula oleh beberapa Group Head di lingkungan RNI.

Bertepatan dengan acara Launching RNI Millenials, kegiatan sharing session ini ditargetkan bagi anak muda milenial di lingkungan RNI Group yang jumlahnya mencapai 30% dari keseluruhan karyawan dan akan terus meningkat kedepannya. Kegiatan sharing session ini dirasa penting untuk dilaksanakan dengan alasan sebagai generasi penerus yang akan menjadi pemimpin RNI di masa depan, diperlukan peningkatan wawasan akan rasa nasionalisme dan kebangsaan agar tidak mudah terpapar paham-paham maupun ideologi yang bertentangan dengan NKRI.

Di hadapan 150 anak muda dari 11 anak perusahaan RNI Group yang tersebar di seluruh Indonesia ini, Kepala BNPT mengawali paparan mengingatkan untuk tidak terlena dengan kemajuan teknologi dan cepatnya persebaran informasi. Sebagai generasi yang aktif menggunakan internet, Kepala BNPT meminta untuk terus waspada karena masih banyak yang tidak paham literasi digital dan tidak mempunyai kemampuan melakukan filter konten yang tersebar di dunia maya. Kemudahan lalu-lalang informasi di dunia maya, khususnya di media sosial dapat menjadi pintu masuk indoktrinasi paham radikalisme negatif yang berujung dengan ancaman terorisme yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

“Tolong hati-hati, bisa saja kita terinfiltrasi pelan-pelan karena dibungkus dengan kemasan-kemasan lain, jadi jangan percaya begitu saja. tanamkan cek dan ricek, kemudian pandu dengan wawasan kebangsaan sehingga mendapatkan informasi yang akurat,” ujar Kepala BNPT saat berbagi langkah kepada para milenial untuk menangkal paham radikal di dunia maya.

Komjen Pol. Suhardi Alius, M.H., kemudian mengimbau para peserta agar aktif berperan dan jangan apatis mengidentifikasi perubahan yang terjadi di sekitar mereka. Kini, anak muda tidak hanya dituntut untuk menjadi unggul dan menang dalam kompetensi akademis atau secara profesional kerja tapi juga harus secara moral membentengi diri dengan kualitas naluri kebangsaan. “Jika ada perubahan-perubahan tolong sampaikan kepada pimpinan kalian, jangan diam dan cuek. Generasi muda harus punya sense of crisis, punya naluri kebangsaan,” ujar Kepala BNPT.

Tidak hanya menjelaskan terkait program-program BNPT dalam menanggulangi ancaman terorisme, Kepala BNPT juga memberikan motivasi kepada peserta sharing session. Bahkan salah satu peserta sharing session merasa terinspirasi dengan pendekatan soft power yang dilakukan BNPT dalam menghadapi permasalahan terorisme yang sangat pelik. Kunci dari itu semua diungkapkan oleh Suhardi Alius yaitu dengan berfikir out of the box dan memiliki rasa empati terhadap satu sama lain.

“Idealisme kalian masih tinggi, jika ada ide sampaikan dan beri masukan kepada pimpinan karena kita perlu terobosan-terobosan baru. Masa depan Indonesia ada di tangan kalian. Kalian calon pemimpin, tolong berbuat, pasti bisa sepanjang ada kemauan. Jangan hanya menuntut hak tapi melalaikan kewajiban, sehingga kalian akan jadi orang yang arif. Kita masih punya kesempatan, terus pertahankan rasa bersyukur dan kemauan berbuat untuk lingkungan,” ungkap Komjen. Pol. Suhardi Alius, M.H.

Usai acara, Direktur Utama RNI, B. Didik Prasetyo, menyampaikan bahwa paparan dari Kepala BNPT menjadi sangat penting bagi generasi milenial RNI. Bahkan kedepannya akan dilakukan inisiasi dan kerja sama lebih lanjut untuk menanggulangi terorisme antar kedua instansi. “Kita pilih milenial karena berbeda dengan generasi kami yang sejak sekolah pernah menerima pelajaran seperti wawasan nusantara atau pendidikan sejarah perjuangan bangsa. Generasi sekarang setelah ditanya ternyata tidak mendapatkan itu. Setelah ini mungkin kita akan tindaklanjut dengan MoU dengan BNPT untuk bisa menanamkan pengetahuan tentang kebangsaan dan bela negara untuk karyawan di RNI. Paling tidak ada rasa nasionalisme yang muncul lagi, terutama untuk menjaga NKRI,” ujar Direktur Utama RNI.

Kepala BNPT kemudian memberikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap antusiasme para peserta. “RNI menjadi salah satu BUMN yang mengundang kita untuk sharing, khususnya bagi milenial. Milenial dapat menjadi target brainwashing, padahal mereka adalah masa depan Indonesia. Oleh karena itu, sangat tepat diberikan karena mereka mudah terprovokasi dan diintervensi oleh kelompok-kelompok tersebut. Yang bisa melawan itu semua adalah rasa kebangsaan dan nasionalisme,” ujar Kepala BNPT saat menutup kegiatan hari ini.