Jakarta – Ancaman terorisme merupakan kejahatan serius yang sifatnya lintas batas dan akan berpengaruh pada kebijakan luar negeri suatu negara. Sebagai penentu langkah strategis Indonesia di level internasional khususnya dalam bidang pertahanan dan keamanan kawasan, para diplomat Indonesia perlu dibekali pemahaman utuh mengenai bahaya radikalisme dan terorisme.

Berkaca pada keadaan tersebut, Kepala BNPT, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., diundang sebagai narasumber pada Diklat Fungsional Diplomat Sekolah Staf dan Pimpinan Kementerian Luar Negeri (Sesparlu) Angkatan ke-62 di Pusdiklat Kementerian Luar Negeri, Jakarta pada Kamis (11/07) pagi.

Sesparlu sendiri merupakan tahap pendidikan dan pelatihan yang diperuntukkan bagi para diplomat senior Indonesia. Diklat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi para diplomat senior dalam aspek komunikasi, kepemimpinan hingga kemampuan menciptakan terobosan strategis untuk menghadapi dinamika global terkini.

Mengangkat topik mengenai ‘Strategic Leadership and Management on Countering Terrorism’, Kepala BNPT kali ini menceritakan pengalaman-pengalaman memimpin BNPT dan berbagi langkah penanganan terorisme kepada 17 diplomat senior yang merupakan putra-putri terbaik bangsa. Pengalaman menghadapi terorisme dan ekstremisme berbasis kekerasan (violent extremism), mendorong BNPT untuk mengambil langkah visioner yang inovatif dan mengikuti perkembangan zaman. Salah satu contohnya adalah dengan membentuk duta damai dunia maya atau peace ambassadors yang terdiri dari anak muda terpilih dari seluruh Indonesia dan se-Asia Tenggara yang sebentar lagi akan merambah ke tingkat dunia. Langkah inovatif ini diharapkan bisa dicontoh bagi para diplomat untuk senantiasa berfikir kreatif dan out of the box, namun tepat sasaran.

Tidak hanya itu, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., juga menyelipkan motivasi kepada peserta diklat untuk mulai berperan aktif mengidentifikasi jika ada perubahan negatif di lingkungan mereka. “Begitu cepatnya perubahan dunia hingga kita tidak mampu untuk mengimbanginya. Radikalisme sebenarnya bisa dilihat, namun kita cuek. Padahal kita lihat di sekitar kita keakraban sosial sudah mulai berkurang. Interaksi juga berubah, termasuk munculnya mindset ‘benar sendiri’, sehingga tidak ada toleransi akan keberagaman,” ujar Kepala BNPT kepada peserta diklat.

Selanjutnya, Kepala BNPT mengajak para peserta Diklat Sesparlu untuk mengedepankan langkah preventif atau pencegahan dibanding menggunakan cara represif dalam mengatasi permasalahan terorisme sampai ke akarnya. Dibantu oleh Kementerian Luar Negeri, pendekatan kemanusiaan (soft power approach) BNPT telah menjadi role model dunia. Hal ini membuktikan bahwa terorisme sebagai ancaman global mengakibatkan penanganannya tidak bisa hanya dipegang oleh BNPT semata. Fungsi koordinatif BNPT secara berkesinambungan telah dilakukan dengan cara mengajak Kementerian dan Lembaga pemerintah lainnya, termasuk Kemenlu yang perwakilannya bahkan telah menempati posisi strategis di dalam struktur internal organisasi BNPT.

Ditemui usai mengisi sesi diklat, Kepala BNPT sangat berharap para diplomat dalam diklat ini dapat memiliki framework kebangsaan menghadapi masalah radikalisme maupun terorisme sebagai bekal saat melakukan penugasan ke luar negeri nanti. “Saya menyampaikan bagaimana melihat fenomena global permasalahan terorisme dan bagaimana mengenalinya, termasuk treatment apa yang bisa kita kerjakan di tingkat nasional sekaligus menginspirasi di tingkat regional bahkan global. Mereka adalah representasi Indonesia di luar negeri. Kita harap mereka memiliki perspektif yang sempurna untuk melindungi kebijakan nasional untuk kepentingan bangsa dan negara,” Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H.

Dengan kepemimpinan Indonesia saat ini di Dewan Keamanan PBB, isu terorisme diangkat menjadi salah satu prioritas yang dibicarakan dalam forum tersebut. Sebelumnya, Kepala BNPT bahkan telah diundang sebagai pembicara pada konferensi tingkat tinggi di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat untuk memperkenalkan metode pendekatan soft power ke mata dunia. Sinergi kedua instansi dalam memerangi terorisme ini adalah upaya serius memerangi terorisme dan bukti komitmen bahwa Indonesia punya peran aktif menjaga keamanan dan memelihara perdamaian dunia.