Jakarta – Teroris berstatus narapidana yang mendekam dalam lembaga pemasyarakatan perlu dipahami lebih dalam oleh lembaga yang menaunginya. Menyadari hal tersebut, Kepala BNPT Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius M.H. hadir sebagai pembicara memberikan pembekalan bagi alumni politeknik ilmu pemasyarakatan.

Bertempat di Ruang Graha Bakti Pemasyarakatan, Gedung Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Jakarta Pusat, pada Selasa (24/7) sore. Mengangkat tema ‘Resonansi Kebangsaan dan Bahaya serta Pencegahan Radikalisme’ Kepala BNPT memberikan paparan terhadap ratusan alumni Politkenik Ilmu Pemasyarakatan Angkatan 50, pejabat Dirjen Pemasyarakatan, serta CPNS tahun 2018.

Mengawali paparan, Kepala BNPT menjelaskan proses infiltrasi radikalisme dan terorisme. Menurut Drs. Suhardi Alius, perkembangan teknologi yang tidak didukung dengan ketahanan diri yang baik dapat membuat seseorang terpapar radikalisme hingga berbuat aksi teror.

“Kita ini berhadapan dengan ideologi, dan targetnya penyebarannya itu anak muda. Pola baru terorisme zaman sekarangpun menggunakan media sosial, social messenger bahkan ada rekrutmen terbuka dan bai’at online,” papar mantan Sestama Lemhannas ini.

Dalam pembekalan ini pula para peserta menerima informasi yang dapat digunakan dalam menjalan tugas di lapangan, khususnya untuk bersikap hati-hati dan siaga dalam berhadapan dengan narapidana terorisme. Kepala BNPT juga mengingatkan pentingnya melakukan pengawasan, edukasi dan rehabilitasi. Langkah-langkah tersebut ditujukan untuk mendukung reintegrasi mantan napiter ketika kembali ke tengah masyarakat kelak.

Ditemui usai acara, Dirjen Pemasyarakatan Sri Puguh Budi Utami berharap usai pembekalan peserta memiliki kapasitas pemahaman yang utuh terkait penanganan narapidana terorisme.

“Yang pasti kami akan menerapkan pembinaan sesuai dengan target capaian dan standar operasional prosedur. Yang juga penting, petugas kami tidak ikut terpapar paham menyimpang,” Ujar Dirjen Pemasyarakatan.