Depok – Setelah melaksanakan penandatanganan nota kesepahaman antara Universitas Indonesia dan BNPT, Kepala BNPT Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius memberikan Kuliah Umum dihadapan ratusan peserta. Kuliah umum yang mengangkat tema “Resonansi Kebangsaan dan Bahaya serta Pencegahan Radikalisme” menjadi edukasi pengantar bagi seluruh elemen akademisi Universitas Indonesia yang hadir.

Bertempat di Gedung Balai Sidang Universitas Indonesia Kampus Depok, Jawa Barat, Kuliah Umum dilaksanakan pada Senin (23/04) pagi. Selain ratusan peserta, Kuliah umum oleh Kepala BNPT Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius M.H. ini dihadiri oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Prof. H. Muhammad Nasir Ph. D., Rektor Universitas Indonesia Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met., dan Kapolresta Depok Kombes Pol. Didik Sugianto. Sementara dari jajaran pimpinan BNPT yang mendampingi adalah Sekretaris Utama BNPT Marsma TNI Dr. A. Adang Supriyadi, Deputi I BNPT Mayjen TNI Abdul Rahman Kadir, Deputi II BNPT Brigjen Pol. Budiono Sandi, Deputi III BNPT Irjen Pol. Drs. Hamidin, Kepala Biro Umum BNPT, Kepala Biro Perencanaan, Hukum dan Humas, serta direktur-direktur BNPT.

Kuliah umum sebagai rangkaian penandatanganan nota kesepahaman  antara BNPT dengan UI berlangsung lancar. Dihadapan peserta yang terdiri dari tamu undangan, pejabat BNPT,  pejabat dan pegawai UI, akademisi dan tenaga pengajar serta mahasiswa UI dan mahasiswa PTIK, kuliah umum disampaikan.

Kepala BNPT mengajak seluruh peserta untuk dapat menanamkan dan memelihara semangat yang berdasarkan kepada 4 pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika). Dengan semangat tersebut, diperkaya dengan pengetahuan sejarah dan kearifan lokal dapat membentengi diri dari berbagai terpaan yang dapat mengancam kesatuan Indonesia, seperti radikalisme dan terorisme.

“Jaman sekarang di mana perkembangan teknologi dan dunia maya dimanfaatkan oleh kelompok yang tidak bertanggung jawab, kita lah yang harus mampu mengidentifikasi konten-konten di media sosial, maka kita perlu sense of crisis,” tegas Suhardi Alius.

Lebih lanjut, Kepala BNPT mengingatkan bahwa generasi muda, pelajar dan golongan terdidik tidak aman dari infiltrasi pemahaman-pemahaman menyimpang. Mengetahui hal ini, para peserta diharapkan tidak menurunkan rasa awas dan kewaspadaan terhadap lingkungan mereka, baik lingkungan sosial maupun di dunia maya.

“Mahasiswa harus peka dan selalu waspada karna infiltrasi semacam ini nyata adanya. Dan kalau kalian merasa ada teman, kerabat, tenaga pengajar yang dirasa menyimpang agar kalian berani mengingatkan bahkan melaporkannya,” ujar Kepala BNPT.

Ditemui usai Kuliah Umum,  Kepala BNPT, Menteri Riset Teknolodi dan Pendidikan Tinggi dan Rektor UI satu suara tentang pentingnya upaya penanggulangan terorisme di tengah generasi muda. “Program seperti ini penting dan bukan upaya main-main dari kami. Sudah sejak 2016 Kemenristekdikti dan BNPT memberikan edukasi kepada sekolah dan kampus terkait nilai kebangsaan dan bahaya terorisme. Mahasiswa sebagai gerbang memajukan Indonesia harus dikawal, mengingat baik mahasiswa dan kampus rawan menjadi sasaran infiltrasi radikal. Maka, radikalisme harus kita tangkal, begitupun intoleransi di tengah mereka,” ujar Menristekdikti.