Banda Aceh, FKPT Center – Sebagai mitra strategis Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di daerah, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh turut serta melakukan berbagai upaya dalam mencegah penyebarluasan paham radikal terorisme. Melalui media massa pers, mereka meminta penggunaan “diksi keras” dalam pemberitaan mulai dikurangi.

Hal ini dikatakan oleh Ketua FKPT Aceh, Yusny Saby, saat mendampingi tim dari BNPT dalam Visit Media ke redaksi Kompas TV biro Aceh, Rabu (9/8/2017). Diksi keras dalam pemberitaan yang dimaksudnya antara lain kata terorisme.

“Kami terus sosialisasikan, meminta media massa maksimal menggunakan kata radikalisme,” kata Yusny.

Dijelaskan oleh Yusny, terorisme merupakan imbas dari paham radikalisme dan sikap radikal dalam beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Penggunaan diksi keras dalam pemberitaan dikhawatirkan akan menambah tekanan ke pendengar atau pembaca berita di media massa pers.

Ketua Dewan Pers, Yoseph Adi Prasetyo, yang hadir sebagai pemateri di kegiatan Visit Media BNPT dan FKPT Aceh ke redaksi media massa pers, mengatakan dalam konteks Aceh saran penggunaan diksi keras dikurangi dapat dibenarkan. Catatan sejarah masa lalu disebutnya sebagai alasan pembenaran.

“Aceh memiliki sejarah masa lalu yang kelam, salah satunya GAM yang dempat dituding sebagai terorisme. Apa yang disarankan FKPT Aceh ada benarnya,” kata Yosep.

Stanley, demikian Yosep Adi Prasetyo disapa di kesehariannya, menilai apa yang disosialisasikan FKPT Aceh sudah tertuang dalam Pedoman Peliputan Terorisme, aturan bersama terkait pemberitaan seputar terorisme yang merupakan hasil kerjasama BNPT dan Dewan Pers.

“Pers diminta tidak melakukan glorifikasi dalam pemberitaan, salah satunya pemilihan diksi yang lembut dan tidak menyudutkan pihak-pihak tertentu,” jelas Stanley.

Visit Media merupakan salah satu metode yang dijalankan dari kegiatan Pelibatan Media Massa Pers dalam Pencegahan Terorisme. Satu metode lainnya adalah dialog Literasi Media sebagai Upaya Cegah dan Tangkal Radikalisme dan Terorisme di Masyarakat, yang sudah dan akan diselenggarakan di 32 provinsi se-Indonesia di sepanjang tahun 2017.

BNPT dan FKPT pada tahun 2017 juga menggelar lomba karya jurnalistik, dengan mengangkat tema kearifan lokal sebagai sarana pencegahan terorisme. [shk/shk]