Palu – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) senantiasa menjalin koordinasi dan kerja sama dengan Kementerian dan Lembaga serta Pemerintah Daerah melalui program Sinergisitas antar K/L. Kewaspadaan akan bahaya radikalisme dan terorisme harus menjadi perhatian bersama, sehingga upaya penanggulangan radikalisme dan terorisme menjadi usaha kolektif yang tidak cukup apabila hanya dibebankan menjadi tanggungjawab pemerintah pusat semata. Keterlibatan secara aktif pemerintah daerah yang menjadi lokus kegiatan dapat membantu mengatasi penanggulangan radikalisme dan terorisme secara efektif, menyeluruh dan menyentuh masyarakat secara langsung.

Rabu (19/06) siang usai melaksanakan Rapat Koordinasi Pelibatan Secara Terpadu Pelaksanaan Penanggulangan Terorisme di Wilayah Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2019, Tim Pelaksana Sinergisitas 36 K/L diundang oleh Wali Kota Palu, Drs. Hidayat, M.Si., untuk berkunjung ke Kantor Walikota Palu dalam rangka silaturahmi dengan pemerintah daerah setempat.

Diundangnya 36 K/L Sinergisitas oleh Walikota Palu ini menjadi peluang emas bagi perwakilan K/L untuk mengenal lebih dekat situasi terkini di Kota Palu dan sekitarnya sebagai salah satu lokus kegiatan Sinergisitas. Diharapkan dengan diberikannya wawasan mengenai kondisi ekonomi, sosial, dan politik masyarakat Palu langsung dari jajaran pemerintah setempat, Tim Pelaksana Sinergisitas dapat menentukan langkah pendekatan yang tepat sasaran.

Sekretaris Utama BNPT selaku Ketua Tim Sinergisitas, Marsda TNI Dr. A. Adang Supriyadi, memulai kegiatan dengan memberikan kata sambutan. “Saya mengucapkan terimakasih telah diundang oleh Walikota Palu. Saya selaku Ketua Tim Sinergisitas hadir bersama perwakilan dari K/L yang akan melaksanakan rencana aksi di Provinsi Sulawesi Tengah untuk bisa melihat sejauh mana bantuan yang dibutuhkan saudara-saudara kita sesuai tugas dan fungsi masing-masing K/L. Mungkin wilayah sasaran kami tidak terlalu besar namun saya harap akan tepat sasaran,” ujar Sestama BNPT.

Sinergisitas menjadi best practice bagi dunia dalam menyelesaikan masalah terorisme dengan konsep strategi yang menitikberatkan pada rasa kemanusiaan. Metode soft approach atau pendekatan humanis telah berjalan dengan baik dan sukses selama ini di Sulawesi Tengah dan telah mendapat apresiasi yang cukup baik dari banyak pihak.

Walikota Palu, Drs. Hidayat, M.Si., saat menyambut kehadiran Tim Sinergisitas 36 K/L di kantornya juga berpendapat bahwa soft approach khususnya melalui pendekatan budaya sesuai kearifan lokal dapat menjain terpeliharanya stabilitas keamanan dan perdamaian. “Dalam rangka mendukung program dari BNPT, sebelumnya kami pemerintah Kota Palu telah memiliki Satuan Tugas K5 (Kebersihan, Keindahan, Keamanan, Ketertiban, dan Kenyamanan) yang terdiri dari tokoh-tokoh masyarakat informal, intinya dibuat untuk mengembalikan fungsi masyarakat untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Bibit-bibit radikalisme dapat berkembang di tengah masyarakat namun dengan kekuatan lembaga kearifan lokal saat ini keadaan telah kondusif. Kami ingin bangun kembali budaya bangsa. Dalam artian menumbuhkan kembali nilai toleransi, nilai kekeluargaan dan gotongroyong. Sehingga tidak hanya ada di ceramah namun betul-betul mereka jaga nilai ini. Kita juga harus dorong fisiknya, kita bangun ruang untuk berinteraksi sehingga saling mengenal, sehingga kohesi sosial terbangun kembali di antara masyarakat,” ujar Walikota Palu.

Menanggapi adanya program Sinergisitas di Palu, Walikota Palu berharap adanya perhatian khusus dari Kementerian dan BNPT, mengingat diperlukan adanya penanganan pemulihan pascabencana gempa bumi, likuifaksi dan tsunami yang melanda Kota Palu beberapa waktu yang lalu. “Mudah-mudahan Kementerian yang hadir dapat merespon dan menindaklanjuti khususnya dalam rangka mempercepat pemulihan kembali Palu,” ujar Drs. Hidayat, M.Si.

“Sinergisitas di Sulawesi Tengah kali ini diawali dengan silaturahmi mengunjungi Gubernur dan Walikota kemudian akan kita sampaikan rencana aksi Kementerian dan Lembaga. Kita akan diskusikan tambahan masukan dari Pak Walikota. Tentunya sinergisitas itu penuh dengan koordinasi dan diskusi, apa saja yang perlu kita bantu. Kita akan menyentuh saudara-saudara kita di sasaran yang perlu kita bantu secara terarah, masif dan empirik di Poso, Kota Palu, Kabupaten Tojo Una-Una, Kabupaten Parigi Moutong dan Morowali. Tujuan akhirnya adalah mereka dapat membuat desa madani dengan tokoh lokal sebagai penggerak,” ungkap Sestama BNPT saat menutup kegiatan di Palu kali ini.