Jakarta- Tantangan terorisme dewasa ini semakin kompleks dengan hadirnya informasi dan teknologi yang semakin canggih. Kelompok teroris dengan fasih memanfaatkan perkembangan TI sebagai sarana propaganda rekrutmen dan perencanaan aksi.

Demikian yang disampaikan oleh Kepala Biro Umum (KAROUM) BNPT, Brigjen. TNI Dadang Hendrayuda, pada Ceramah dalam Kegiatan Diklat PIM Tingkat III yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi di Pusdiklat Kementrian Kominfo, Jakarta (23/08/2017). Peserta Diklat yang berjumlah 33 orang dari berbagai instansi antara lain: 3 orang BNPT, 6 orang TVRI, 4 Orang Insan Pers dan 20 Orang dari instansi dibawah Kominfo.

Lebih lanjut, Dadang menjelaskan pola penyebaran konten radikal di dunia maya selalu mengalami perkembangan dinamis. Pada mulanya kelompok teroris hanya menggunakan website, kemudian chat forum, lalu merambah ke media sosial dan yang paling mutakhir melalui sosial messenger.

“Sekarang penyebaran konten radikal lebih mudah ditemui dalam berbagai platform media sosial dan social messenger dan setiap tahun perkembangan jumlah situs radikal juga semakin tinggi,” tandasnya.

Dampak dari terorisme di dunia maya ini, menurut Jenderal Bintang Satu ini adalah munculnya fenomena radikalisasi baru di kalangan remaja. Jika dahulu proses radikalisasi terjadi di ruang tertutup melalui bimbingan mentor khusus, saat ini orang menjadi radikal dengan hanya mengakses konten radikal dan bisa melakukan pembai’atan secara online.

Tantangan untuk menanggulangi konten radikalisme di dunia maya ini juga cukup sulit. Penutupan channel Telegram yang dilakukan oleh Kemenkominfo tidak cukup membuat mereka jera.

“Kemarin Kemenkominfo menutup channel di Telegram, tapi kelompok radikal membuat strategi dengan menamai grup mereka dengan nama-nama instansi pemerintah dan ada yang beralih pada platform Whatsapp,” tandas Dadang.

Kompleksitas penanganan terorisme di dunia maya ini menuntut sinergi dari berbagai pihak. Dalam kesempatan tersebut, Lulusan Akmil 1988 ini mengajak Kemenkominfo untuk bersinergi dalam melakukan monitoring dan penanganan bersama yang lebih cepat, efektif dan koordinatif.